Alih Wahana untuk Pengembangan Folklore Lisan Bengkulu

Sarwit Sarwono(1),
(1) Universitas Bengkulu, Indonesia

Abstract


Kesenian sering juga dimaknai sebagai folklore (atau bagian dari folklore), sementara folklore sering diberi makna sama atau lebih kurang sama dengan kebudayaan.  Demikianlah, kesenian dalam arti luas dapat dimaknai sebagai kebudayaan atau sekurang-kurangnya bagian dari kebudayaan suatu kolektif (Danandjaja 1994).  Sebagai folklore atau bagian folklore, kesenian memiliki fungsi, misalnya sebagai sistem proyeksi, sistem kontrol atau pengendali bagi perilaku dan aktivitas masyarakat suatu kebudayaan (Bascom 1984; Gaster 1984; Malinowski 1984).  Dalam kaitan ini, kesenian mengejala dan tampil dalam keseharian kehidupan suatu masyarakat budaya.  Kesenian memperlihatkan identitas suatu masyarakat budaya.  Kesenian juga menunjukkan makna, fungsi atau kegunaannya bagi suatu masyarakat budaya.  Aneka macam fungsi kesenian tampak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya, misalnya ekonomi, sosial, politik, pendidikan, agama, keyakinan atau kepercayaan.  Sifat dinamis dalam kesenian tampak pada keluwesannya memanfaatkan unsur-unsur baru untuk menggantikan unsur-unsur lama yang dipandang kurang relevan atau tidak sesuai lagi dengan tuntutan kebutuhan zaman (Sedyawati 2014).

References


Asponi, Nodi. Nyialang pada Masyarakat Serawai di Kabupaten Seluma. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Unib, 2003.

Astuti, Rini. Guritan pada Masyarakat Serawai di Kabupaten Seluma. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu, 2004.

Ateni. Upacara Bekayekan pada Masyarakat Pasemah Air Keruh. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universiitas Bengkulu, 2001.

Bascom, William, “The Forms of Folklore: Prose Narratives”, dalam Alan Dundes (ed.), Sacred Narrative. Reading in the Theory of Myth. California: University of California Press, 1984.

Danandjaja, James. Folklore Indonesia. Ilmu Gosip, dongeng, dan lain-lain, Cetakan keempat, Jakarta: Grafiti, 1994.

Dundes, Alan. The Meaning of Folklore. The Analytical Essays of Alan Dundes. Edited and Introduced by Simon J. Bronner. Logan, Utah: Utah State University Press, 2007.

Hardadi, Paizal. Kayiak Beterang pada Masyarakat Serawai di Bengkulu Selatan. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu, 2003.

Helfrich, O.L., “Bijdrage tot de Letterkunde van de Serawajer en Besemaher in de Afdeeling Manna en Pasemah Oeloe Manna (Residentie Bengkoelen)”, TBG XXXVII, 1894:65-104.

Herdenson. Aspek Religi pada Nandai Batebah di Semidang Alas Bengkulu Selatan. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu, 1995.

Kurniati, Novi. Nandai Raden Kesian pada Masyarakat Semidang Alas di Kabupaten Seluma. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unib, 2005.

Lindasari, Pionika. Cerita Rakyat Masyarakat Serawai sebagai Sarana Penenaman Karakter Anak. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unib, 2012.

Mahyudin, Pertunjukan Dendang pada Masyarakat Semidang Alas di Kabupaten Bengkulu Selatan. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu, 2000.

Marsden, William. The History of Sumatera. A reprint of the third edition, introduced by John Bastin. Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1975.

Merzanuddin, Rejung dalam Pementasan Tari Adat pada Masyarakat Serawai, Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unib, 1995.

Nursyamsiah. Asal usul Tari Gandai pada Masyarakat Pekal. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan seni FKIP Unib,1996.

Ongsu. Tadut pada Masyarakat Padang Guci. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unib, 1985.

Propp, Vladimir. Theory and History of Folklore, Translated by Ariadna Y. Martin and Richard P. Martin, Edited, with an Introduction and Notes by Anatoly Liberman. Cetakan keempat. Minnesota: University of Minnesota Press, 1997.

Purwadi, Rahayu, dan Youpika 2019. “Guritan dan Ritus Betedo pada Etnik Serawai di Bengkulu: Catatan Awal”, makalah disampaikan pada Interational Conference on Literature, UNY, 3-4 Oktober 2019.

Sarwono, Sarwit dan Agus Joko Purwadi. 2013. “Folklor Rejung pada Kelompok Etnik Serawai di Bengkulu”. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Vol. 26. Nomor 3, 2013 (182-192).

Sarwono, Sarwit, Ngudining Rahayu, Agus Joko Purwadi. 2017. “Rekontekstualisasi Praktik Sosial Merejung dalam Naskah Ulu pada Kelompok Etnik Serawai di Bengkulu”. Jurnal Litera Vol. 16 Nomor 2, Oktober 2017 (295-308).

Sarwono, Sarwit. 2017. “Naskah Ulu MNB 07.55: Wacana dan Praktik Sosial Begadisan pada Kelompok Etnik Serawai di Bengkulu”. Jurnal Manuskripta, Vol. 7 Nomor 1, 2017 (63-80).

Sarwono, Sarwit. 2014. Naskah-naskah Ulu Adat Perkawinan pada Kelompok Etnik Serawai di Bengkulu: representasi fungsi sosial ketua adat atas tindakan dalam praktik pernikahan. Disertasi Ilmu-ilmu Sosial Fisipol Universitas Airlangga.

Sedyawati, Edi dan Sapardi Joko Damono (eds.). Seni dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: Gramedia, 1983.

Sedyawati, Edi, dkk., (editor), Sastra Melayu Lintas Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa, 2004.

Sedyawati, Edi. Kebudayaan Nusantara. Depok: Komunitas Bambu, 2014.

Susanti, Evi. Kajian Bentuk Sastra Lisan Nandai pada Masyarakat Lembak Padang Ulak Tanding. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unib, 2000.

Susilawati. Legenda dan Cerita Rakyat Rejang di Kabupaten Rejang Lebong. Skripsi S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan seni FKIP Unib,1998.

Wuisman, J.J.J.M. 1985. Sociale Verandering in Bengkulu. Een cultuur-sociologische analyse. Dordrecht-Holland: Foris Publication.


Article Metrics

 Abstract Views : 0 times
 PDF Bahasa Indonesia Downloaded : 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.