https://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/issue/feedJournal of Global Forest and Environmental Science2026-01-23T04:21:17+00:00Saprinurdinjhutanlingkungan@unib.ac.idOpen Journal Systems<p><strong>Journal of Global Forest and Environmental Science (Jurnal Rimba Raya dan Ilmu Lingkungan)</strong> is a peer-reviewed scientific journal <span>issued by <strong>Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP)</strong>, Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu (Publishing House of Faculty of Agriculture, University of Bengkulu). This journal </span>publishes manuscripts in forestry and environmental issues widely, including forest management, forest products and technology, social forestry, silviculture, agroforestry, forest soil science, forest protection, urban forestry, and forest ecology. This journal is published in bilingual (English and Bahasa Indonesia). <span style="font-size: 0.83em;"> </span></p><p><span style="font-size: 0.83em;"><strong><strong>Journal of Global Forest and Environmental Science (Jurnal Rimba Raya dan Ilmu Lingkungan)</strong> </strong>was first published in 2021 and will be published twice a year in June and December.</span></p><h2 class="MsoNormal"> </h2>https://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/46763ANALISIS LIGNIN DAN BERAT JENIS (BJ) KAYU PUSPA (Schima wallichii (DC.) Korth) DAN KAYU LABAN (Vitex pubescens Vahl) SEBAGAI SEKAT BAKAR DI KAWASAN HUTAN TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS2026-01-12T04:58:17+00:00Nani Nuriyatinnnuriyatin@unib.ac.idReynaldi Alfathullahreynaldialfathullahrizqi@gmail.comDevidevisilsia@unib.ac.id<p>The quality of wood can be observed, among other things, from its specific gravity and chemical composition. Lignin, in addition to being the second largest component in the chemical properties of wood, is also the most resistant component to degradation from heat compared to other chemical components of wood. The purpose of this study is to determine and compare the lignin content and specific gravity of puspa wood (Schima wallichii (DC.) Korth) and laban wood (Vitex pubescens Vahl). The variables observed were specific gravity, measured using the Vintila (1939) method in Smith (1995), and lignin (%) using the TAPPI Test Method T: 222. The measurement results were analyzed using a t-test. The t-test results for lignin content indicate that the average lignin content of the puspa heartwood (24%) and sapwood (26.53%) is not significantly different from the lignin content of laban sapwood (32.07%). Meanwhile, the t-test for the mean values of the wood density of puspa wood in the heartwood and sapwood, 0.53 and 0.54 respectively, compared with the sapwood of laban wood (0.69) gave significantly different results. Thus, laban wood is better than puspa wood if used as a firewood block.</p> <p><strong> </strong></p> <p><em>Key word: Specific gravity, lignin, firewood block, wood quality</em></p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nani Nuriyatin, Reynaldi Alfathullah, Silsiahttps://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/47560PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU DI PT RESTORASI EKOSISTEM INDONESIA, JAMBI2026-01-12T04:56:14+00:00Afda Refaniafdarefani@unib.ac.idFini Tisnawatiafdarefani@unib.ac.idEfratenta Katherina Depariefratentadepari@unib.ac.id<p>Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) berperan penting dalam mendukung restorasi ekosistem berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis, potensi, dan pola pemanfaatan HHBK di PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), Jambi, dengan fokus pada empat komoditas utama yaitu jelutung <em>(Dyera costulata)</em>, damar <em>(Agathis dammara), </em>jernang <em>(Daemonorops draco)</em>, dan madu hutan <em>(Apis dorsata). </em>Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan HHBK memberikan manfaat ekonomi, ekologi, dan sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Kegiatan penyadapan getah jelutung dan damar, budidaya jernang, serta panen madu hutan secara lestari berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan tanpa merusak ekosistem hutan. Pengelolaan HHBK di PT REKI menjadi contoh penerapan restorasi ekosistem berbasis masyarakat yang mengintegrasikan prinsip ekonomi hijau dan kesejahteraan lokal.</p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Afda Refani, Fini Tisnawati, Efratenta Katherina Deparihttps://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/47887EVALUASI KESEHATAN TEGAKAN HUTAN PADA RUANG TERBUKA HIJAU TAMAN REMAJA KOTA BENGKULU2026-01-22T08:46:09+00:00Devi Gusni Zainiyahdevizainiyah028@gmail.comEnggar Apriyantoenggavan@gmail.comSaprinurdin Saprinurdinsaprinurdin@unib.ac.idEdi Suhartoedisuharto@unib.ac.id<p>Ruang Terbuka Hijau merupakan suatu lahan yang luas yang di tumbuhi oleh berbagai tumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari tumbuhan bawah sampai dengan pohon. Keberadaan Ruang Terbuka Hijau pada wilayah perkotaan sangat penting karena banyak nya manfaat yang diperoleh dari keberadaan RTH tersebut. Pohon merupakan bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki fungsi penting terutama yang berada pada taman kota. Kondisi kesehatan pohon sangat penting untuk diketahui dimana kondisi kerusakan pohon ini bisa dijadikan sebagai salah satu indikator untuk pohon bisa dikatakan sehat atau sakit, penyebab-penyebab kerusakan hutan dapat dikenali dan di evaluasi. Kegitan Evaluasi kesehatan pohon sangat penting untuk dilakukan agar mengetahui keadaan pohon masa kini, transformasi di masa depan, serta masalah yang bisa terjadi yang disebabkan oleh aktivitas manusia (Safe’i <em>et al,.</em> 2022).</p> <p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerusakan tegakan di areal RTH Taman Remaja Kota Bengkulu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktobe-November 2024 yang berlokasi di Taman Remaja Kota Bengkulu. Metode yang digunakan untuk menilai kesehatan pohon yaitu FHM (<em>Forest Health Monitoring</em>) dengan parameter yang dinilai yaitu kerusakan pohon dan kerusakan tajuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan tegakan hutan pada Ruang Terbuka Hijau Taman Remaja Kota Bengkulu berdasarkan CLI (<em>Cluster Level Index)</em> tergolong sehat yaitu dengan Nilai Indeks Kerusakan (NIK) sebesar 1,68 dengan persentase pohon sehat 95,17%, tingkat kerusakan ringan 4,82%. Walaupun tergolong sehat beberapa pohon yang didapatkan menunjukkan nilai kelas keparahan yang tinggi yaitu pohon karet <em>(Havea brasiliensis),</em> Mahoni <em>(Swietenia macrophylla)</em>, Kalpataru (<em>Hura crepitans</em>) dan Flamboyan (<em>Delonix regia</em>)<em>.</em></p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Devi Gusni Zainiyah, Enggar Apriyanto, Saprinurdin Saprinurdin, Edi Suhartohttps://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/47897PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP DESA WISATA BELITAR SEBERANG KECAMATAN SINDANG KELINGI KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU2026-01-22T22:54:14+00:00Natalia C Damaniksiswahyono@unib.ac.idSiswahyonosiswahyono@unib.ac.idPutranto B.A NugrohoputrantoBAN@unib.ac.id, Adhika P.A. Wijnanasiswahyono@unib.ac.id<p><em>Belitar Seberang Tourism Village in Rejang Lebong Regency, Bengkulu, possesses remarkable natural and cultural potential but faces challenges in accessibility and ancillary services. This study aims to describe visitor characteristics and assess their perceptions of the tourism village based on the 4A concept (Attraction, Accessibility, Amenities, and Ancillary Services). The research was conducted from October 2024 to March 2025 using descriptive quantitative and qualitative methods. Primary data were collected through observation and interviews with 100 respondents using an accidental sampling technique, while secondary data were obtained from literature and village documents. Results show that most visitors are aged 17–25, unmarried, have a senior high school education, are university students, and originate from Bengkulu. Perceptions of the Attraction and Amenities aspects were rated as good, while Accessibility and Ancillary Services were considered moderately satisfactory. Overall, visitor perceptions of the tourism village are positive; however, improvements in infrastructure, additional tourist information services, and training for tourism actors are needed to enhance service quality. These findings provide a strategic basis for sustainable destination development, increasing visitor satisfaction, and fostering loyalty.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> visitor perception, tourism village, Belitar Seberang, sustainable tourism</em></p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Natalia C Damanik, Siswahyono, Putranto B.A Nugroho, , Adhika P.A. Wijnanahttps://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/47898KAJIAN EKOLOGI FAMILI ARACEAE DI DESA TAMBANG SAWAH TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT (TNKS) SPTN WILAYAH VI KABUPATEN LEBONG PROVINSI BENGKULU2026-01-22T23:09:16+00:00Meisya Andriani Nasutionmeisyaandriani15@gmail.comWahyudi Ariantowahyudiarianto@unib.ac.idDeselinadeselina@unib.ac.id<p>Famili Araceae tergolong dalam suku talasan, yang mencakup tumbuhan darat (terestrial), tanaman merambat yang mengapung di air (akuatik) dan pepohonan (epifit). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi ekologi dan keanekaragaman jenis famili Araceae di Desa Tambang Sawah, kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)<strong>,</strong> SPTN Wilayah VI Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Pengambilan data dilakukan dengan metode purposive sampling, menggunakan plot berukuran 4 × 4 m di sepanjang lima jalur transek. Data abiotik yang diamati meliputi suhu udara, kelembapan, intensitas cahaya, pH tanah, dan curah hujan, serta pengambilan sampel tanah untuk analisis kimia dan fisik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 jenis Araceae yang tergolong dalam 9 genus, terdiri atas 9 jenis terestrial dan 2 jenis epifit, dengan total 254 individu. Jenis yang paling banyak ditemukan yaitu <em>Homalomena cordata</em> (122 individu) dan <em>Homalomena propinqua</em> (54 individu). Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) sebesar 1,71<strong>,</strong> menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang. Kondisi lingkungan tempat tumbuh Araceae di lokasi penelitian memiliki ketinggian lokasi 450–700 mdpl yang termasuk dalam kategori hutan dataran rendah. Faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan sifat kimia tanah (pH 4,6–5,2, tekstur lempung berpasir, serta kadar hara rendah) berpengaruh terhadap sebaran dan pertumbuhan famili Araceae. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dasar dalam pengelolaan dan konservasi tumbuhan famili Araceae di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.</p> <p><strong> </strong></p> <p><strong><em>Kata kunci</em></strong><strong>:</strong> Araceae, Keanekaragaman Jenis, Ekologi, Taman Nasional Kerinci Seblat</p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Meisya Andriani Nasution, Wahyudi Arianto, Deselinahttps://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/45262ASSESSMENT OF INDIGENOUS KNOWLEDGE AND PRACTICES IN PROMOTING CONSERVATION IN OPARA FOREST RESERVE IN IWAJOWA LOCAL GOVERNMENT AREA, OYO STATE, NIGERIA2025-10-27T04:20:06+00:00Olawale Julius Alukojuliwal2002@yahoo.comOlajumoke Celinah Odeyalejumoceline81@gmail.comEseoghene Bridget Olawuyibridgetolawuyi62@gmail.com<p>This study assessed indigenous knowledge and practices in promoting forest conservation in the Opara Forest Reserve, Iwajowa Local Government Area, Oyo State, Nigeria. A total of 111 respondents were randomly selected from three purposively chosen communities Itasa, Iwere-Ile, and Ilaji. Data were obtained through structured questionnaires and analysed using descriptive statistics and logistic regression . Findings revealed that the majority of respondents were middle-aged and older individuals, with farmers (44%) and hunters (30%) forming the largest occupational groups. Indigenous practices such as rotational harvesting (56%), sacred groves (14%), controlled fire use (21%), and communal labour (45%) were widely employed in forest management. Knowledge transmission occurred mainly through observation and practice (54%), followed by oral tradition (24%). Respondents affirmed the positive impacts of these practices, with 74% reporting improved soil quality, 12% citing increased biodiversity, and 10% observing reduced tree loss. Furthermore, 92% of respondents considered these practices effective or very effective in conserving forests, and 97% agreed that areas managed under indigenous practices exhibited higher biodiversity. However, challenges included declining interest among younger generations (63%), lack of formal recognition (29%), and external pressures such as government regulations (27%) and industrial logging (23%).Despite these constraints, there was overwhelming support for integrating indigenous knowledge into formal forestry policies, with 90% strongly agreeing and 8% agreeing. Anticipated benefits included improved community participation (55%) and increased forest resilience (24%). Suggested solutions included youth education (36%), government recognition (25%), and training forestry officials on indigenous knowledge (66%). Logistic regression analysis indicated aged 40–59 had significantly higher odds of reporting strong adherence to indigenous practice.The study concluded that indigenous knowledge significantly contributed to forest conservation and biodiversity in Opara Forest Reserve. Sustaining these practices requires institutional recognition, intergenerational knowledge transfer, and co-management frameworks that empower local communities to participate actively in forest governance</p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Olawale Julius Aluko, Olajumoke Celinah , Odeyale, Olawuyi Eseoghene Bridget https://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/47564Pengaruh Diameter Batang Dan Komposisi Stimulan Asam Sulfat (H2SO4) dan Asam Nitrat (HNO3) Terhadap Produktivitas Getah Pinus (Pinus Merkusii Jungh Et De Vriese)2026-01-12T04:50:40+00:00Kristina Helen Banjarnahor Helen Banjarnahorkristinahelenbanjarnahor@gmail.comPutranto Budiono Agung NugrohoputrantoBAN@unib.ac.idMela Faradikamelafaradika@unib.ac.id<p class="Default" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; text-indent: .5in;"><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Times New Roman',serif;">Pine resin (<em>Pinus merkusii</em> Jungh. et de Vriese) is a non-timber forest product with high economic value; however, in Parsingguran 1 Village, Pollung District, Humbang Hasundutan Regency, its potential has not been optimally utilized due to the improper and unmeasured application of chemical stimulants. This study aimed to evaluate the effects of stem diameter and the composition of sulfuric acid (H₂SO₄) and nitric acid (HNO₃) stimulants on the productivity and quality of pine resin, as well as to analyze the interaction between these factors. The research was conducted in June 2025 using an experimental method arranged in a factorial Randomized Complete Block Design. The treatments consisted of four stem diameter classes (25–30 cm, 31–35 cm, 36–40 cm, and 41–45 cm) and four stimulant combinations (control, H₂SO₄ 10% + HNO₃ 10%, H₂SO₄ 20% + HNO₃ 10%, and H₂SO₄ 30% + HNO₃ 10%), with three replications. Data were analyzed using two-way ANOVA followed by Tukey’s test when significant differences were detected. The results indicated that both factors had a significant effect on resin yield, with the highest production obtained from the combination of H₂SO₄ 30% + HNO₃ 10% applied to trees with a stem diameter of 41–45 cm. The use of stimulants also reduced the moisture and impurity content of the resin without affecting its color. Overall, this treatment was considered the most effective for enhancing pine resin productivity in large-diameter trees and can be applied to achieve efficient and sustainable tapping practices.</span></p> <p class="Default" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Times New Roman',serif;"> </span></strong></p> <p class="Default" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Times New Roman',serif;">Keywords:</span></strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Times New Roman',serif;"> <em>Pinus merkusii</em>; pine resin; stem diameter; sulfuric acid; nitric acid; productivity</span></p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Kristina Helen Banjarnahor Helen Banjarnahor, Putranto Budiono Agung Nugroho, Mela Faradikahttps://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/47902Valuasi Ekonomi Objek Wisata Bukit Hitam di Kawasan Taman Wisata Alam Bukit Kaba Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu2026-01-23T04:04:12+00:00Elisabet Siregarelisabethsiregar821@gmail.comGunggung Senoajielisabethsiregar821@gmail.comSaprinurdin Saprinurdinsaprinurdin@unib.ac.id<p>Bukit Hitam atau Gunung Hitam, merupakan objek wisata alam baru di Taman Wisata Alam Bukit Kaba, Desa Air Sempiang, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, yang dikelola oleh pemerintah daerah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Dengan ketinggian 1.933 mdpl, destinasi ini menawarkan atraksi utama seperti Air Terjun Bidadari, Air Terjun Dua Putri, Kawah Air Panas, serta Puncak dan Savana. Kajian nilai ekonomi rekreasional diperlukan untuk mengukur kontribusinya terhadap perekonomian lokal. Penelitian ini bertujuan menggambarkan daya tarik dan karakteristik pengunjung serta menentukan nilai ekonomi jasa wisata Bukit Hitam. Dilaksanakan pada April–Mei 2025 menggunakan metode deskriptif kuantitatif, data diperoleh dari sumber primer dan sekunder melalui kuesioner, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengambilan sampel non-probability dengan teknik incidental sampling menggunakan rumus Slovin. Analisis daya secara deskriptif, karakteristik pengunjung secara deskriptif, dan nilai ekonomi dengan Travel Cost Method (TCM). Hasil menunjukkan daya tarik utama pada potensi sumber daya alam seperti kawah dan air terjun, dengan fasilitas memadai untuk kenyamanan pengunjung. Karakteristik pengunjung didominasi kelompok usia 14–25 tahun, perempuan, pendidikan terakhir SMA/MA/SMK sederajat, pendapatan < Rp 1.000.000, pelajar/mahasiswa, belum menikah, berasal dari Kota Bengkulu, jarak rata-rata 66,85 km, dengan motivasi rekreasi dan menikmati suasana alam yang nyaman. Nilai ekonomi wisata diperkirakan Rp 1.489.689.216,78 per tahun dan berdasarkan luas jelajah Bukit Hitam 175 ha, maka diperoleh estimasi nilai ekonomi wisata Bukit Hitam sebesar Rp 8.512.509,81 /ha/tahun. Sehingga menekankan pentingnya pengelolaan dan promosi untuk meningkatkan daya tarik Bukit Hitam.</p> <p>Kata kunci: <em>Travel Cost Method</em>; valuasi ekonomi; Bukit Hitam; daya tarik wisata; karakteristik pengunjung; ekonomi lokal</p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Elisabet Siregar, Gunggung Senoaji, Saprinurdin Saprinurdinhttps://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/view/47904KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN FAMILI ARACEAE DI HUTAN MADAPI TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU2026-01-23T04:21:17+00:00Lolatri Anandaanandalolatri@gmail.comWiryonowiryono@unib.ac.idM. Fajrin HidayatMFajrinhidayat@unib.ac.id<p>Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan famili Araceae yang terdapat di kawasan Hutan Madapi. Penelitian menggunakan metode survei eksplorasi dengan teknik <em>purposive sampling</em>. Pengamatan dilakukan pada empat tipe tegakan hutan yaitu mahoni, damar, pinus, dan kemiri. Setiap jenis Araceae yang ditemukan diidentifikasi, dicatat karakteristik morfologinya, dan dilakukan pengukuran faktor lingkungan seperti pH tanah, kelembapan tanah, suhu, kelembapan udara, dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 jenis tumbuhan famili Araceae yang termasuk dalam <strong>11 </strong>genus<strong>,</strong> dengan jenis terbanyak yaitu <em>Homalomena cordata</em> (115 individu) dan yang paling sedikit <em>Amorphophallus sp</em> (1 individu). Araceae di Hutan Madapi memiliki tiga cara hidup yaitu terestrial, epifit, dan litofit. Nilai indeks kekayaan jenis Margalef berkisar antara <strong>1,69–1,97</strong> (kategori sedang), indeks kemerataan jenis antara 0,88–0,95 (kategori tinggi), dan <strong>indeks </strong>keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) antara 2,06–2,35<strong>,</strong> dengan nilai tertinggi pada tegakan mahoni. Indeks kemiripan komunitas Jaccard menunjukkan nilai 53–90%, sedangkan indeks Sorensen berkisar 69–95%, menunjukkan tingkat kemiripan komunitas yang tinggi antar tegakan. Faktor lingkungan yang paling mendukung pertumbuhan Araceae adalah kelembapan tinggi dan intensitas cahaya rendah, terutama pada tegakan mahoni dan damar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hutan Madapi memiliki keanekaragaman sedang dengan distribusi jenis Araceae yang relatif merata serta berpotensi penting dalam konservasi flora khas daerah tropis.</p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Lolatri Ananda, Wiryono, M. Fajrin Hidayat