Jurnal Kedokteran Raflesia https://ejournal.unib.ac.id/jukeraflesia <p><strong>JKR (Jurnal Kedokteran Raflesia)<em> </em></strong>is a peer-reviewed professional journal with the editorial board of scholars mainly in medicine, biomedic and health sciences. It is published by UNIB Press, <a href="https://www.unib.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Universitas Bengkulu</a>, Indonesia with the ISSN (online): 2622-8343; and ISSN (print): 2477-3778.</p> <p>The journal seeks to disseminate research to educators around the world and is published twice a year in the months of June and December. The newest template has been published since Volume 6(2): December 2020. This journal has been accredited by SINTA.</p> <p><img src="https://ejournal.unib.ac.id/public/site/images/jukeraflesia/sertifikat-sinta-6-screenshot.png" alt="" width="460" height="311" /></p> UNIVERSITAS BENGKULU en-US Jurnal Kedokteran Raflesia 2477-3778 <p><span>Authors who publish with this journal agree to the following terms:</span></p><ol type="a"><li>Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a <a href="https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/" target="_blank">Creative Commons Attribution License</a> that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.</li><li>Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.</li><li>Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See <a href="http://opcit.eprints.org/oacitation-biblio.html" target="_new">The Effect of Open Access</a>).</li></ol> PROBLEM SOLVING IN PULMONARY TUBERCULOSIS AMONG YOUNG ADULTS USING A FAMILY MEDICINE APPROACH: A CASE STUDY https://ejournal.unib.ac.id/jukeraflesia/article/view/44883 <p><em>Tuberculosis is one of the oldest infectious diseases and remains a health problem in Indonesia and globally. The Tangerang Regency Health Office in Banten has identified 5,000 residents in the area who are suffering from or have been exposed to tuberculosis. One program considered successful, particularly in empowering family health, is the Family Folder program for TB patients. This qualitative study employed a case study design. It was conducted by observing and examining in depth the family’s influence on a single TB case using the Family Folder. Based on the results, it can be concluded that family participation is crucial for supporting the recovery of TB patients. Family support affects patient adherence to OAT therapy and influences the patient’s life and environment. This study also found an improvement in the family’s coping score, from 1 to 5, before and after the intervention, which included holistic and comprehensive management of TB patients.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: family approach, pulmonary tuberculosis, adult patient</em></p> Anggun Dwi Rahma Copyright (c) 2025 Anggun Dwi Rahma https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-31 2025-12-31 11 2 77 90 10.33369/juke.v11i2.44883 A CASE REPORT: SKIZOAFEKTIF AWITAN DINI DAN MASALAH PERUNDUNGAN PADA MASA REMAJA https://ejournal.unib.ac.id/jukeraflesia/article/view/44868 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><strong>Pendahuluan</strong>: Gangguan skizoafektif merupakan kondisi psikiatri yang ditandai dengan kombinasi gejala psikotik (halusinasi, waham, perilaku aneh) dan gejala mood (depresi mayor atau mania). Faktor psikososial, seperti perundungan, dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental berat pada remaja.&nbsp;<strong>K</strong><strong>a</strong><strong>sus:</strong>&nbsp;Pasien&nbsp;wanita berusia 21 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sering menangis tiba-tiba, mengucapkan kata-kata kotor, serta menarik diri sejak dua bulan terakhir. Pasien juga mengalami halusinasi auditorik dan visual, afek datar, hipotimia, dan kehilangan minat. Pasien memiliki riwayat diagnosis skizofrenia pada usia 16 tahun, namun tidak patuh minum obat. Riwayat psikososial menunjukkan adanya perundungan saat SMP dan kehilangan figur ayah akibat pemenjaraan.&nbsp;<strong>Pembahasan:</strong>&nbsp;Diagnosis ditegakkan&nbsp;skizoafektif tipe depresif&nbsp;(F25.1) dengan pertimbangan gejala psikotik dan afektif yang menonjol pada episode yang sama. Faktor risiko mencakup pengalaman perundungan, stresor dari keluarga, dan ketidakpatuhan minum obat. Literatur menunjukkan perundungan dapat meningkatkan kadar kortisol, memengaruhi fungsi amigdala dan korteks prefrontal, serta berkontribusi terhadap kerentanan terhadap depresi dan gangguan psikotik.&nbsp;Berdasarkan meta analisis&nbsp;menunjukkan bahwa remaja yang mengalami perundungan berisiko 2,77 kali lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan yang tidak mengalami perundungan. <strong>Kesimpulan:</strong><strong>&nbsp;</strong>Perundungan pada masa remaja dapat menjadi stresor psikososial penting yang berperan dalam timbulnya gangguan skizoafektif. Intervensi dini dan dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk memperbaiki prognosis.</p> Putri Santri Copyright (c) 2025 Putri Santri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-31 2025-12-31 11 2 111 119 10.33369/juke.v11i2.44868 Peran Adaptasi Fisiologis terhadap Latihan Intensitas Tinggi (High-Intensity Training) dalam Optimalisasi Performa Atletik: Tinjauan Literatur Terkini https://ejournal.unib.ac.id/jukeraflesia/article/view/44565 <p>Metode pelatihan intensitas tinggi, seperti High-Intensity Interval Training (HIIT) dan Sprint Interval Training (SIT), telah menjadi semakin populer sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kinerja atletik melalui adaptasi fisiologis yang signifikan. Tinjauan ini menggunakan analisis naratif dari literatur ilmiah terbaru (2015-2025) untuk memeriksa mekanisme adaptasi tubuh terhadap pelatihan intensitas tinggi, termasuk peningkatan kapasitas aerobik (VO₂max), efisiensi metabolik, penyangga laktat, dan fungsi mitokondria. Temuan menunjukkan bahwa baik HIIT maupun SIT dapat meningkatkan kinerja kardiovaskular dan neuromuskular dalam periode pelatihan yang relatif singkat, terutama ketika disesuaikan dengan kebutuhan individu. Namun, respons adaptif tubuh bervariasi dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kebugaran dasar, usia, dan kondisi metabolik. Oleh karena itu, pendekatan berbasis bukti dan yang dipersonalisasi sangat penting untuk mengoptimalkan hasil pelatihan. Wawasan ini memberikan panduan berharga bagi pelatih, fisiolog olahraga, dan profesional kebugaran dalam mengembangkan intervensi yang ditargetkan untuk mencapai kinerja fisik puncak.</p> Dwi Widyawati Copyright (c) 2025 Dwi Widyawati https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-31 2025-12-31 11 2 61 76 10.33369/juke.v11i2.44565 HUBUNGAN STRES KERJA DENGAN KINERJA PERAWAT DI RS TK III DR REKSODIWIRYO PADANG TAHUN 2025 https://ejournal.unib.ac.id/jukeraflesia/article/view/44878 <p>Rumah sakit di seluruh dunia terus berjuang dengan kinerja perawat. Menurut laporan, 88% perawat Pakistan berkinerja buruk. Setengah dari perawat Indonesia melaporkan merasa stres di tempat kerja, menurut Persatuan Perawat Indonesia (PPNI). Ketika perawat berada di bawah tekanan, mereka cenderung tidak memberikan pasien mereka perawatan terbaik. Para peneliti di RS TK III Dr. Reksodiwiryo Padang berangkat untuk menentukan pada tahun 2025 bagaimana stres di tempat kerja memengaruhi efisiensi dan efektivitas staf perawat. Dari Maret hingga Agustus 2025, data dikumpulkan<br>untuk penelitian analitis ini menggunakan desain cross-sectional, yang berlangsung dari 17 April hingga 25 tahun itu. Lima puluh perawat dari bangsal rawat inap dipilih secara acak dari total seratus untuk menjadi populasi penelitian. Kami menggunakan uji Chi-Square untuk analisis univariat dan bivariat dari data yang berasal dari kuesioner terstruktur. Hampir separuh responden survei melaporkan merasa stres di tempat kerja, dan hampir separuhnya melaporkan kinerja yang buruk secara keseluruhan. Stres di tempat kerja berkorelasi signifikan dengan kinerja perawat di bangsal rawat inap. Produktivitas perawat menurun ketika mereka mengalami stres di tempat kerja, menurut penelitian tersebut. Untuk manajemen stres yang lebih baik, peningkatan disiplin di antara perawat, dan dukungan manajerial yang lebih besar dari kepala bangsal dan manajer perawat yang mendengarkan masalah dan ide perawat, rumah sakit perlu menerapkan program pelatihan</p> popy jusnidawati Copyright (c) 2025 popy jusnidawati https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-31 2025-12-31 11 2 100 110 10.33369/juke.v11i2.44878 CASE REPORT SINDROMA NEFROTIK SEBAGAI FAKTOR RISIKO INFARK MIOKARD AKUT SEGMEN INFEROPOSTERIOR PADA WANITA USIA MUDA : LAPORAN KASUS https://ejournal.unib.ac.id/jukeraflesia/article/view/44730 <p><strong>Deskripsi Kasus:</strong> Seorang wanita berusia 30 tahun datang ke unit gawat darurat dengan keluhan pusing, sinkop 6 jam SMRS disertai dengan nyeri dada, ulu hati dan bahu. Pasien dikenal dengan riwayat sindrom nefrotik, gambaran EKG 12 sadapan menunjukkan gambaran STEMI inferoposterior late onset dengan episode transient blok atrioventricular total, pemeriksaan marker enzim jantung HS Trop I menunjukkan hasil &gt; 40.000&nbsp; dengan status nefrotik aktif ( protein urin +3). Tindakan angiografi koroner dilakukan dengan support alat pacu jantung temporer menunjukkan adanya gambaran total oklusi di bagian proksimal arteri koroner kanan (RCA) serta gambaran diseksi koroner spontan. Tindakan <em>Percutaneus Coronary Intervention </em>(PCI) dilakukan dengan hasil restorasi aliran pembuluh darah yang baik.</p> <p><strong>Diskusi:</strong> Keadaan hiperkoagulopati pada SN, yang dicirikan oleh kehilangan protein antikoagulan seperti antitrombin III melalui urin dan peningkatan sintesis faktor pro-koagulan oleh hati dianggap sebagai salah satu mekanisme utama terjadinya trombosis koroner <em>in-situ</em>. Namun penyebab abnormalitas koroner lainnya seperti peningkatan plak aterosklerotik yang signifikan, aneurisma koroner, serta diseksi spontan koroner juga menjadikan patofisiologi diantara keduanya menjadi tumpang tindih. Pasien dengan sindrom nefrotik yang memiliki karakteristik hiperlipidemia, hipoalbuminemia serta adanya edema menjadikan kecurigaan penyebab infark miokard akut adalah trombosis koroner akibat kondisi hiperkoagulopati. Gambaran angiografi koroner pada pasien menunjukkan adanya lesi trombosis tunggal di pembuluh darah koroner kanan (RCA)&nbsp; dengan gambaran diseksi koroner (<em>Spontaneus Coronary Artery Dissection</em>) di proximal RCA yang menyebabkan terjadinya tromboemboli massif. Disamping itu, kondisi AV Blok total merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokard yang melibatkan pembuluh darah koroner kanan akibat iskemia nodus AV yang alirannya bergantung pada suplai pembuluh darah tersebut. &nbsp;Perhatian khusus perlu diberikan pada pasien dengan riwayat risiko tinggi yang mengalami tromboemboli, khususnya saat menangani pasien muda dengan infark miokard. Pencegahan dan perawatan yang spesifik pada kelompok ini sangat penting untuk mengurangi kejadian komplikasi.</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Sindrom nefrotik merupakan faktor risiko pro-trombotik yang kuat dan harus diperhatikan pada pasien usia muda yang datang dengan STEMI. Diagnosis yang akurat dan pendekatan multidisiplin yang komprehensif mencakup reperfusi segera dan tatalaksana sindroma nefrotik sangat penting untuk hasil klinis yang optimal dan pencegahan rekurensi.</p> Novtiara Putri Copyright (c) 2025 Novtiara Putri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-31 2025-12-31 11 2 91 99 10.33369/juke.v11i2.44730