RELASI KERJA MANDOR DENGAN BURUH PEMETIK TEH (Kasus di PT. Perkebunan Sarana Mandiri Mukti, Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang)

Budiman Sanjaya(1), Muhammad Marwan Arwani(2), Sri Handayani Hanum(3),
(1) , Indonesia
(2) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu, Indonesia
(3) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu, Indonesia

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana relasi kerja antara mandor dengan buruh pemetik teh yang asimetris di PT Perkebunan Sarana Mandiri Mukti di Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Dengan menggunakan teknik penentuan informan Snowball Sampling yaitu cara penentuan informan dengan jumlah sampel tidak ditentukan, ketika data yang diberikan informan inti maupun informan tambahan sudah dianggap lengkap maka proses pencarian data dihentikan.Informan inti adalah mandor dan buruh pemetik teh serta informan tambahan yaitu mandor besar. Teori yang dipergunakan adalah teori kesadaran kelas semu yang memunculkan hubungan kerja yang asimetris, penulis menggunakan teori kesadaran kelas semu untuk menganalisis lebih mendalam mengenai relasi kerja yang terjalin antara mandor dengan buruh pemetik teh. Subjek dalam penelitian ini adalah para mandor dan buruh pemetik teh. Informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang juga bekerja di perkebunan teh Kabawetan yang memiliki informasi pendukung untuk menguatkan data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Hubungan kerja yang terjalin antara mandor dan buruh pemetik teh merupakan hubungan kerja yang asimetris atau hubungan yang tidak seimbang. Hubungan kerja yang asimetris (tidak seimbang) itu dapat dilihat dari pola kerja mandor yang lebih ringan dibandingkan dengan pola kerja buruh, akan tetapi upah yang diperoleh mandor justru lebihbesar dibandingkan dengan upah yang diterima oleh buruh pemetik teh, selain itu hubungan asimetris antara mandor dan buruh pemetik teh dapat dilihat dariperlakuan mandor dari perjanjian kerja, pengawasan kerja hingga aktivitas kerja yang membeda-bedakan atau bersikap tidak adil terhadap buruhyang sudah tua dengan buruh pemetik yang masih muda, (2) Hubungan kerja yangasimetris antara mandor dan buruh pemetik teh menimbulkan suatu ketidakadilanbagi buruh pemetik teh, ketidakadilan yang diterima buruh pemetik menciptakansebuah kesadaran kelas semu pada buruh pemetik teh, artinya buruh pemetikmenyadari bahwa keadaan ekonomi yang sulit dan keterbatasan keahlian hidupyang dimiliki, membuat buruh pemetik teh tetap bertahan menjadi seorang buruhpemetik teh yang berada dalam suatu relasi kerja yang asimetris yang terjalindengan mandor.

 

Kata Kunci: Relasi Kerja Asimetris, Mandor, dan Buruh Pemetik Teh


Full Text:

PDF

References


Abu, Mufakir. 2011. “Perkebunan Teh dan Reproduksi Kemiskinan”. Jurnal Sedane 11(1): 10-20.

Bungin, Burhan. 2001. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.

Data dan Arsip PT Perusahaan Sarana Mandiri Mukti 2011 hingga 2016.

Murbyanto, Dkk. 1992. Tanah dan Tenaga Kerja Perkebunan. Yogyakarta: Aditya Media.

Soepomo, Imam. 2001. Hukum Perburuhan: Bidang Hubungan Kerja. Jakarta: Djambatan.

Sugiono, Muhadi. 2006. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga. Yoyakarta: Pustaka Pelajar.




DOI: https://doi.org/10.33369/jsn.2.2.58-69

Article Metrics

 Abstract Views : 0 times
 PDF Downloaded : 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Budiman Sanjaya, Muhammad Marwan Arwani, Sri Handayani Hanum

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Location of Jurnal Sosiologi Nusantara Secretariat:

Department of Sociology, Faculty of Politic And Social Science, University of Bengkulu, Indonesia

Jalan WR Supratman No 38 A, Kandang Limun, Bengkulu, Kode Pos 38371 A, Indonesia

      

 
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.