Main Article Content
Abstract
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses ritual menyadap enau dan menjelaskan fungsi mitos dalam penjagaan tumbuhan enau dalam etnik Rejang. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu informasi yang ada kaitannya dengan pandangan Masyarakat Rejang mempunyai mitos, ritus penyadapan enau serta penjagaan tumbuhan enau. Sumber data dalam penelitian ini adalah dua teks cerita Putri sedaro putih, yang pertama cerita Putri sedaro putih yang sudah ditranskrip dan yang kedua, lisan yang didapat secara langsung oleh BMA kabupaten Rejang Lebong. Pengumpulan data dilakukan studi lapangan secara langsung di kabupaten Rejang Lebong dengan Teknik dokumen, observasi, wawancara, pencatatan, pengamatan, dokumentasi. Metode pengolahan data dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan data, mentranskrip dan menafsirkan data, menganalisis teks dan menarik Kesimpulan.
Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa 1) makna di dalam proses ritual dari cerita rakyat Putri sedaro putih sering kali memberi pesan bagaimana tindakan Masyarakat Rejang yang seharusnya dilakukan dalam memperlakukan alam dan di masyarakat Rejang diajarkan bahwa terdapat cara khusus dalam memperlakukan alam sehingga alam akan memberikan timbal balik terhadap manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia. 2) mitos dapat menjadi pedoman perilaku manusia dalam menjaga keseimbangan alam, meningkatkan kepekaan terhadap kondisi alam, mengukuhkan posisi manusia dan alam serta unsur-unsur lainnya dalam ekosistem, serta untuk meningkatkan kepekaan manusia terhadap penjagaan alam.
Kata Kunci: Mitos, Ritus, Etnik Rejang, Perlindungan Ekosistem, Ekokritik Sastra
Abstract
This research aims to explain the ritual process of tapping sugar palm plants and explain the function of myth in protecting sugar palm plants in the Rejang tribe. The data used in this research is information related to the Rejang Community's views on myths, rituals for tapping palm sugar and protecting palm plants. The data sources in this research are two texts of the story Putri Sedaro Putih, the first is the story of Putri Sedaro Putih which has been transcribed and the second is an oral story which was obtained directly by the BMA of Rejang Lebong district. Data collection was carried out by direct field studies in Rejang Lebong district using document techniques, observation, interviews, recording, observation, documentation. Data processing methods are carried out by searching and collecting data, transcribing and interpreting data, analyzing text and drawing conclusions.
Based on the results of the analysis, it was found that 1) the meaning in the ritual process of the Putri Sedaro Putih folklore often gives a message about how the Rejang community should act in treating nature and the Rejang community teaches that there is a special way of treating nature so that nature will give reciprocity to humans to fulfill human needs. 2) myths can guide human behavior in maintaining the balance of nature, increasing sensitivity to natural conditions, strengthening the position of humans and nature and other elements in the ecosystem, as well as increasing human sensitivity to protecting nature.
Keywords: Myth, Rites, Rejang Ethnicity, Ecosystem Protection, Literary Ecocriticism
Article Details
Copyright (c) 2026 Orenda Olympia Feronia, Sarwit Sarwono, Irma Diani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
References
-
Ahmad Abdul Karim, dkk (2021) ‘Nilai Karakter Peduli Lingkungan dalam Cerita Rakyat “Hikayat Kampung Hilang, Bakan Jati’, Prosiding Seminar Nasional Sastra, Lingua, dan Pembelajarannya (Salinga), 1(Vol 1 No 1 (2021): Peran Bahasa dan Sastra dalam Penguatan Karakter Bangsa), pp. 209–221. Available at: http://ejurnal.budiutomomalang.ac.id/index.php/salinga/article/view/1627.
Alan Dundes (1984) Sacred Narative. Edited by Alan Dundes. London, England: University of California Press Barkeley, Los Angeles, London.
Danandjaja, J. (1994) Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Endraswara, S. (2016) Metode Penelitian Ekologi Sastra Konsep, Langkah dan Penerapan. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service).
Faruk (2012) Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Garrard, G. (2004) Ecoriticism. london: Routledge.
Gusnetti, Syofiani, dan R.I. (2015) ‘Stuktur dan nilai-nilai Pendidikan dalam Cerita Rkayat Kabupatun Tanah Datar provinsi Sumatera Barat’, Jurnal Gramatika, 1, pp. 183–192.
Hasan, Z. (2015) Anok Kutai. Kabupaten Lebong: Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Perhubungan Kabupaten Lebong.
Humaeni, A. (2013) ‘Makna Kultural Mitos dalam Budaya Masyarakat Banten’, Antropologi Indonesia, 33(3). Available at: https://doi.org/10.7454/ai.v33i3.2461.
Hutomo, S.S. (1991) Mutiara yang Terlupakan, Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI.
Juansah, D.E., Mawadah, A.H. and Devi, A.A.K. (2021) ‘Rekonstruksi Cerita Rakyat Pulau Jawa Berdasarkan Perspektif Kesetaraan Gender’, Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(1), pp. 39–44.
Keraf, A.S. (2010) Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Khomisah (2020) ‘Ekokritik dalam Perkembangan Sastra’, Al-Tsaqafa, 17(1), pp. 83–94. Available at: https://doi.org/10.15575/al-Tsaqafa.v17i1.6032.
Koentjaraningrat (1990) Beberapa pokok Antropologi Sosial. jakarta: Disn Rakyat.
McGinn, R. (1984) Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of Sumatra.
P.Spradley, J. (1980) Participant Observation. Holt, Rinehart and Winston.
Rahayu, N. (1995) ‘Bahasa rejang di Kabupaten Rejang Lebong: sebuah kajian geografi dialek = Rejang language in Kabupaten Rejang Lebong: A study of dialect geography’. Available at: uri: https://lib.ui.ac.id/detail.jsp?id=81679.
Rahman, D. (2022) ‘Representasi Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan Pada Cerita Rakyat Papua’, Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 11(2), p. 51. Available at: https://doi.org/10.31000/lgrm.v11i2.6622.
Ramadhanty, R.D. (2022) ‘Nilai-nilai dan Fungsi Ekologi Sastra Lisan Rejang di Kabupaten Rejang Lebong’, הארץ, (8.5.2017), pp. 2003–2005.
Sarwono, S. (2020) Khazanah Manuskrip Ulu Bengkulu, Universitas Nusantara PGRI Kediri. UPP FKIP Universitas Bengkulu.
Sarwono, S. and Firmansyah (2023) Standardisasi Aksara Ulu Rejang Musi Rejang Kepahiang. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang.
Siddik, A. (1980) Hukum Adat Rejang. 2008th edn. University of California: Balai Pustaka.
Siddik, A. (1996) Sejarah Bengkulu. Jakarta: Balai Pustaka.
Susilawati, E. (1997) ‘Legenda Masyarakat Rejang di Kecamatan Curup’.
Wibowo, S.F. (2020) ‘Nandai Batu Menangis Sebagai Nilai Tambah Objek Wisata Situs Megalitikum Trisakti Suban Air Panas’, Batra, 6(1), pp. 63–75.
References
Alan Dundes (1984) Sacred Narative. Edited by Alan Dundes. London, England: University of California Press Barkeley, Los Angeles, London.
Danandjaja, J. (1994) Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Endraswara, S. (2016) Metode Penelitian Ekologi Sastra Konsep, Langkah dan Penerapan. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service).
Faruk (2012) Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Garrard, G. (2004) Ecoriticism. london: Routledge.
Gusnetti, Syofiani, dan R.I. (2015) ‘Stuktur dan nilai-nilai Pendidikan dalam Cerita Rkayat Kabupatun Tanah Datar provinsi Sumatera Barat’, Jurnal Gramatika, 1, pp. 183–192.
Hasan, Z. (2015) Anok Kutai. Kabupaten Lebong: Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Perhubungan Kabupaten Lebong.
Humaeni, A. (2013) ‘Makna Kultural Mitos dalam Budaya Masyarakat Banten’, Antropologi Indonesia, 33(3). Available at: https://doi.org/10.7454/ai.v33i3.2461.
Hutomo, S.S. (1991) Mutiara yang Terlupakan, Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI.
Juansah, D.E., Mawadah, A.H. and Devi, A.A.K. (2021) ‘Rekonstruksi Cerita Rakyat Pulau Jawa Berdasarkan Perspektif Kesetaraan Gender’, Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(1), pp. 39–44.
Keraf, A.S. (2010) Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Khomisah (2020) ‘Ekokritik dalam Perkembangan Sastra’, Al-Tsaqafa, 17(1), pp. 83–94. Available at: https://doi.org/10.15575/al-Tsaqafa.v17i1.6032.
Koentjaraningrat (1990) Beberapa pokok Antropologi Sosial. jakarta: Disn Rakyat.
McGinn, R. (1984) Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of Sumatra.
P.Spradley, J. (1980) Participant Observation. Holt, Rinehart and Winston.
Rahayu, N. (1995) ‘Bahasa rejang di Kabupaten Rejang Lebong: sebuah kajian geografi dialek = Rejang language in Kabupaten Rejang Lebong: A study of dialect geography’. Available at: uri: https://lib.ui.ac.id/detail.jsp?id=81679.
Rahman, D. (2022) ‘Representasi Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan Pada Cerita Rakyat Papua’, Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 11(2), p. 51. Available at: https://doi.org/10.31000/lgrm.v11i2.6622.
Ramadhanty, R.D. (2022) ‘Nilai-nilai dan Fungsi Ekologi Sastra Lisan Rejang di Kabupaten Rejang Lebong’, הארץ, (8.5.2017), pp. 2003–2005.
Sarwono, S. (2020) Khazanah Manuskrip Ulu Bengkulu, Universitas Nusantara PGRI Kediri. UPP FKIP Universitas Bengkulu.
Sarwono, S. and Firmansyah (2023) Standardisasi Aksara Ulu Rejang Musi Rejang Kepahiang. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang.
Siddik, A. (1980) Hukum Adat Rejang. 2008th edn. University of California: Balai Pustaka.
Siddik, A. (1996) Sejarah Bengkulu. Jakarta: Balai Pustaka.
Susilawati, E. (1997) ‘Legenda Masyarakat Rejang di Kecamatan Curup’.
Wibowo, S.F. (2020) ‘Nandai Batu Menangis Sebagai Nilai Tambah Objek Wisata Situs Megalitikum Trisakti Suban Air Panas’, Batra, 6(1), pp. 63–75.